Hasil Perolehan Suara Pemilihan Presiden (PILPRES) Indonesia 2014


+Pilpres 2014 - Komisi Pemilihan Umum (KPU) telah menyelesaikan rekapitulasi perolehan suara Pemilihan Presiden (Pileg) 2014 secara nasional. Dalam hasil tersebut, +PRABOWO-HATTA memperoleh suara paling tinggi dengan 52.3%.

Berikut hasil lengkap rekapitulasi perolehan suara secara nasional dari KPU ;

+PRABOWO-HATTA                                    +JOKOWI-JUSUF KALLA

                              52,3 %                               47,7 %

Enny Arrow : Aningsih Bag.2

Apa yang dikatakan Oding memang hampir benar. Benny melamun. Dan Aningsih yang
dilamunkan. Terbayang wajahnya. Terbayang gerak-geriknya. Terbayang tertawanya.
Semua, semua. Dan Benny membandingkan Aningsih dengan perempuan-perempuan
yang pernah dikenalnya. Dengan Hera, Yani, Dari dari banyak lagi wanita-wanita lain.
Namun Aningsih mempunyai daya tarik sendiri. Rasanya lama sekali sampai menunggu
hari Rabu tiba. Menit demi menit yang berlalu, rasanya sangat lambat. lngin
dipaksakannya matahari bergeser cepat ke sebelah barat, agar hari cepat berganti!
HARI RABU.
“Mbak Ning tinggal sendirian di sini?!” tanya Benny pada Aningsih. Mereka duduk di
ruang tengah rumah
Aningsih. Pada jam sepuluh pagi, Akingsih belum mandi. Tetapi di mata Benny,
bahkan Aningsih tampak lebih
cantik dan menawan.
“Tidak! Bersama teman, Mbak. Hilda! Dan seorang pembantu!” jawab Aningsih sambil
meletakkan segelas kopi
susu di hadapan Benny.. baca kelanjutannya...
 

Khaled Hosseini : The Kite Runner

The Kite Runner adalah sebuah novel karya penulis berkebangsaan Afghanistan-Amerika Serikat, Khaled Hosseini. Novel ini diterbitkan pada tahun 2003 dan merupakan novel pertama Hosseini. Novel ini telah diadaptasi ke layar lebar dengan judul yang sama pada tahun 2007.

The Kite Runner bercerita tentang Amir, seorang anak laki-laki dari distrik Wazir Akbar Khan di Kabul, dan sahabatnya Hassan, putra seorang pelayan hazara di rumahnya. Cerita berkisar seputar kekisruhan situasi pemerintahan di Afghanistan pasca jatuhnya monarki Afghanistan dalam invasi Soviet, eksodus pengungsi ke Pakistan dan Amerika Serikat, serta munculnya rezim Taliban.[wikipedia]

Enny Arrow : Aningsih Bag.1

TAMAN RIA Remaja Senayan. Air membentang seluas mata memandang. Perahu-perahu hilir mudik dengan berbagai bentuk. Kebanyakan berkepala bebek. Penumpang-penumpangnya bermacam-macam. Ada keluarga. Terdiri Bapak, Ibu dan anak-anaknya. Atau pasangan-pasangan yang sedang berpacaran. Wajah-wajah mereka menunjukkan kegembiraan. Ada yang senyum, tertawa cerah. Atau bercanda ria.

Memang demikianlah halnya kebanyakan pengunjung-pengunjung Taman Ria ini. Kebanyakan menampakkan wajah gembira. Ceria. Namun di antaranya, ada seorang yang tidak menampakkan wajah gembira. Benny ! Dia duduk di atas rerumputan pebukitan yang memanjang. Matanya memandang ke depan. Sebentar meredup, sebentar membola. Seperti ada golakan di dalam hatinya. Seperti gelombang yang menderu-deru. Tiap sebentar menghela napas panjang! Langit cerah. Awan-awan putih bergumpal-gumpal di sela-sela langit biru. Benny merebahkan tubuhnya di atas rerumputan.

Kedua lengannya disilangkan di bawah kepala. Lama dia memandang langit. Tetapi langit bagai tak tampak. Yang terlihat olehnya, bayangan kabut. Bergumpal-gumpal. Di antara kabut itu, bagaikan menyembul seraut wajah. Perempuan. Cantik. Dan tik. Dan Benny menarik napas panjang lagi. Seraut wajah itu tersenyum. Manisnya. Lebih manis dari pada gula atau segala yang paling manis di dunia ini. Benny memejamkan matanya.

O, kesalnya dia. Tak ingin sebenarnya dia menyaksikan seraut wajah itu. Tetapi wajah itu seperti mengejarnya. Wajah Lisa. Wajah seseorang yang dicintainya. Benny membuka matanya lagi. Secara jujur, Benny, pemuda yang berusia sekitar dua puluh empat tahun itu, harus mengakui, bahwa dia sangat mencintai Lisa. Belum pernah sebelumnya, Benny mencintai seseorang, seperti besarnya kecintaannya kepada Lisa, Tetapi sekarang! Cinta yang besar itu telah berobah menjadi kebencian. Kebencian amat sangat. Benny merentak. Setengah menyentak, dia bangun dari sikap berharingnya.

Berpaling ke kiri dan meludah. Dan . . . tiba-tiba mata Benny bentrok dengan mata seseorang. Seorang perempuan. Benny terperangah. Sejak kapan perempuan itu duduk di situ. Benny tidak melihatnya pada beberapa menit yang lalu. Perempuan itu, berwajah tirus dengan sepasang mata bola yang indah, dengan rambut dibiarkan tergerai pada bahunya, masih saja memandang Benny. Umurnya sekitar tiga puluh tahun. Sendirian ! Benny menelan ludah! Uf! Mata yang indah. Duduk dengan sikap agak sembarangan, sehingga ujung roknya tersingkap. Dan menyembullah. Dapatkan cerita lengkapnya..


 
Copyright © Talasiah.blogspot.com - All Rights Reserved
Term of Service - Privacy Policy - Disclaimer
Craeted by : The Aceh Inc.